Selasa, 21 Juni 2011

PEMBELAJARAN BAHASA UNTUK ANAK


Pembelajaran Bahasa Untuk  Anak-anak
Pembelajaran Bahasa Inggris Pada Anak-anak

Coba anda simak cerita sineneng ini yang saya kutip dari ebook karangan pak Teguh handoko.

Seorang bayi perempuan berusia 10 bulan,anggap saja namanya Neneng sedang duduk di kereta bayi bersama emaknya. tiba-tiba melintaslah seorang tukang balon.

Neneng melihat balon it dan ia merasakn indah, lalu tiimbul keinginan untuk memiliki balon tersebut. perasaan dan kebutuhan tersebut berkecamuk dalam dirnya, ia ingin menyampakan perasaan dan kebutuhan tersebut kepada mama nya, dia membutuhkan alat yaitu bahasa – tapi saat itu dia belum punya. Terus bagaimana?..ya tidak ada cara lain kecuali dia pakek alat pamungkas yaitu MENANGIS – neneng langsung menangis keras sambl menunjuk tukang balon..ps maaf, menunjuk balon tersebut. Betul, menangis adalah alat komunikasi bayi paling jitu. 

seminggu berlalu..Neneng kini memiliki katanya pertama yaitu EMAK
Minggu kedua..Neneng memiliki kata berikutnya yaitu BALON

Pada suatu sore ketika tengah belajar berjalan dengan emaknya, melintaslah kembali seorang tukang balon yang sama. Apakah Neneng masih perlu berkomunikasi dengan “Mengangis”? No way, dia sekarang sudah memiliki alat untuk mengkomunikasikan hal tersebut yaitu Bahasa.

Nah begitulah sengkiranya cara belajar bahasa inggris ala bayi yang bisa anda terapkan dalam mempelajari bahasa inggris.[1]

Senin, 30 Mei 2011 - Penelitian terbaru oleh sebuah tim psikolog Universitas Pennsylvania memantu menjungkirkan teori dominan mengenai bagaimana anak belajar kata-kata pertamanya, menunjukkan kalau itu terjadi lebih sering seketika ketimbang bertahap lewat paparan berulang-ulang.



Penelitian ini dilakukan oleh pascadoktoral Tamara Nicol Medina, professor John Trueswell, dan profesor  Lila Gleitman, semuanya dari jurusan psikologi di sekolah seni dan sains Penn dan lembaga penelitian ilmu kognitif Universitas tersebut, bersama dengan Jesse Snedeker, seorang professor dari Harvard University.

Penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences minggu lalu.

Teori lama mengatakan kalau anak belajar kata-kata pertamanya lewat sederetan asosiasi; mereka mengasosiasikan kata-kata yang mereka dengar lewat referensi ganda yang mungkin dalam lingkungan sekitarnya. Seiring waktu, anak dapat melacak kedua kata dan elemen lingkungan yang berkaitan dengannya untuk pada akhirnya menyempitkan apa elemen kata yang sama rujukannya.

“Hal ini terdengar masuk akal sekali hingga anda melihat kenyataannya,” kata Gleitman. “Ternyata hal tersebut mungkin mustahil.”

“Teori ini dipandang sebagai pendekatan sederhana yang memaksa,” kata Medina. “Saya bahkan melihatnya dirujuk pada buku-buku pengajaran anak untuk menjelaskan bagaimana anak mempelajari kata-kata pertama mereka.”

Eksperimen yang mendukung teori belajar kata asosiatif ini umumnya melibatkan sederetan gambar atau benda, ditunjukkan berpasangan atau dalam kelompok kecil dalam latar belakang netral. Dunia nyata sebaliknya, memiliki tak terhingga kemungkinan referensi yang dapat berubah tipe atau penampakannya dari saat ke saat dan bahkan mungkin tidak ada saat kata tersebut diucapkan.

Sekelompok kecil ahli psikologi dan bahasa, termasuk anggota tim Penn, telah lama berpendapat kalau sejumlah  besar perbandingan statistik dibutuhkan untuk mempelajari kata-kata seperti ini dan jelas diluar kemampuan ingatan manusia. Bahkan model komputasi yang dirancang untuk menghitung statistik demikian harus mengimplementasikan semacam jalan pintas dan tidak menjamin belajar secara optimal.

“Ini tidak berarti kita buruk dalam memahami informasi statistik dalam relung lain, hanya saja kita melakukan pelacakan semacam ini dalam stuasi dimana ada jumlah elemen yang terbatas yang dapat kita asosasikan satu sama lain,” kata Trustwell. “Saat kita harus memetakan kata-kata yang kita dengar pada jalan yang pada dasarnya tak terbatas dalam persepsi kita pada dunia, pelacakan statistik besar-besaran ini tidak berguna. Distribusi kemungkinannya terlalu besar.”

Untuk menunjukkan hal ini, tim Penn melakukan tiga eksperimen berhubungan, semua melibatkan segmen video singkat orang tua berinteraksi dengan anak mereka. Subjek, baik dewasa dan anak prasekolah, menonton video-video ini dengan suara dimatikan kecuali ketika sang orang tua mengatakan kata-kata tertentu yang harus ditebak subjek; kata target diganti dengan kedipan di eksperimen pertama dan kata peletak nonsens pada kedua dan ketiga.

Eksperimen pertama dirancang untuk menentukan seberapa informatif gambaran tersebut dalam menghubungkan kata target dengan maknanya. Bila lebih dari separuh subjek dapat menebak benar kata target, ia diberi label Sangat Informatif, atau HI. Bila kurang dari sepertiga dapat, ia diberi label Rendah Informasi, atau LI. LI sangat banak dibandingkan HI, dari 288 kata, 7 persennya HI dan 90 persennya LI, menunjukkan kalau untuk kata yang sangat sering sekalipun, menentukan makna semata dari konteks visualnya cukup sulit.

Eksperimen kedua melibatkan menunjukkan subjek sederetan video dengan kata target ganda, semua diletakkan secara konsisten dengan peletak nonsens. Para peneliti dengan hati-hati mengatur campuran contoh HI dan LI untuk menjelajahi konsekuensi perjumpaan saat belajar informatif awal atau lanjut.

“Dalam studi-studi sebelumnya jenis ini, para peneliti menggunakan perangsang buatan dengan sejumlah kecil pilihan makna untuk tiap kata; mereka juga melihat pada hasil akhir eksperimen: apakah anda akhirnya tahu kata tersebut atau tidak,” kata Trueswell. “Apa yang kami lakukan disini adalah melihat arah belajar kata sepanjang eksperimen, menggunakan konteks alami yang pada dasarnya mengandung sejumlah tak terhingga pilihan makna.”

Dengan meminta subjek menebak kata target setelah tiap tayangan, penelitian ini dapat merasakan apakah pemahaman mereka bersifat kumulatif ataukah terjadi dalam saat-saat “eureka.”

Bukti sangat menunjukkan yang kedua. Paparan berulang pada kata target tidak membawa pada ketelitian yang lebih baik seiring waktu, menunjukkan kalau hipotesis asosiasi sebelumnya tidak berlaku.

Lebih jauh, hanya saat subjek melihat tayangan HI pertama ketelitian tebakan akhir meningkat; tayangan HI awal memberikan kemungkinan terbaik pada subjek untuk mempelajari kata yang benar, dan sebagian besar menebak benar saat ditunjukkan. Bukti pembenar membantu mengunci pada makna benar bagi subjek-subjek ini yang memulai pada jalur yang tepat.

“Ini seperti anda tahu ketika ada bukti yang bagus, anda dapat membuat sesuatu seperti tebakan yang dipertimbangkan dengan hati-hati,” kata Gleitman.

Walau begitu, ketika subjek melihat potongan LI lebih dahulu, mereka cenderung salah menebak dan, walaupun diperbolehkan memperbaiki tebakan ini selama eksperimen, mereka akhirnya tidak mampu juga tiba pada makna yang benar. Hal ini menunjukkan kalau subjek ini tidak memiliki ingatan makna alternatif yang mungkin termasuk yang benar dari potongan awal yang dapat mereka ingat.

Eksperimen ketiga menunjukkan kalau ketidakmampuan mengetahui makna yang salah dalam pikiran dibutuhkan agar akusisi kata yang mungkin dapat terjadi. Setelah penundaan beberapa hari, subjek melihat potongan kata target yang sama yang salah mereka tebak sebelumnya namun tidak menunjukkan peroleh asumsi salah mereka lagi.

“Semua ingatan tersebut lenyap,” kata Gleitman. “Dan itu bagus! Kegagalan ingatanlah yang menyelamatkan anda dari tetap salah selama sisa hidup anda.”

Penelitian selanjutnya oleh anggota tim Penn akan menyelidiki apa yang membuat interaksi pasti lebih atau kurang informatif ketika berhubungan dengan makna kata, dan juga urutan dimana orang mengolah informasi visual dalam lingkungannya. Kedua penelitian ini dapat membantu menulis ulang buku paket dan panduan mendidik anak, menyarankan kalau interaksi kaya dengan anak – dan kesabaran – lebih penting daripada buku dan drilling gambar abstrak.[2]
Dalam pembelajaran bahasa inggris diperlukan membiasakan atau pembiasaan dalam berbahasa inggris. Sebagai contoh, jika mereka mengawasi Playtime Disney dalam bahasa Inggris, Anda akan chatting tentang apa yang terjadi pada layar dan reaksi mereka untuk itu dalam bahasa Inggris. Sekali lagi, balasan di L1 harus dibiarkan sampai mereka bisa digunakan untuk itu atau jika itu adalah sesuatu yang mereka tidak bisa berkata dalam bahasa Inggris belum. Hal yang sama dapat dilakukan dengan buku-buku bahasa Inggris dan lagu, membahas kerajinan yang mereka buat dalam pelajaran bahasa Inggris mereka, dll



lagu bahasa Inggris, buku dan program TV mungkin hal yang paling penting ketika belajar bahasa Inggris bersama. Untuk menjaga perbedaan antara bahasa yang berbeda yang saya sebutkan diatas, jangan menerjemahkan untuk anak Anda, tetapi malah menunjukkan kepada mereka makna dengan gambar, Inggris sederhana atau tindakan. Atau, mereka mungkin akan sangat senang tidak memahami setiap kata dan akhirnya akan mengambilnya dari tempat lain - setelah semua, saya masih tidak tahu apa yang "tuffet" adalah meskipun menjadi seorang pembicara Inggris yang bernyanyi tentang Little Miss Muffet duduk di salah satu selama bertahun-tahun! bahasa Inggris hal-hal lain yang mungkin berguna meliputi poster, mainan listrik (misalnya boneka beruang berbicara), permainan komputer, permainan papan, permainan kartu, dan lagu-lagu animasi dan cerita secara online. Yang penting dengan semua ini adalah untuk menggunakannya sebagai cara untuk berinteraksi dalam bahasa Inggris, bukan sesuatu yang pasif anak duduk di depan. Memiliki dan menggunakan hal-hal ini dalam bahasa Inggris tidak harus berhenti mereka belajar tentang bahasa dan budaya mereka sendiri, tentu saja. Sekali lagi, mungkin layak jelas membagi dua dengan memiliki sebuah kotak mainan yang berbeda, rak buku yang berbeda atau mengatur waktu setiap hari untuk hal-hal bahasa Inggris.[3]
Metode Belajar Bahasa Inggris Untuk Anak Itu Berbeda

Dengan dibekali otak yang masih berkembang, sebenarnya anak anda sudah mempunyai modal awal untuk belajar tentang hal- hal baru terutama kemampuan berbahasa. Mereka lebih mudah memahami daripada orang dewasa. Tapi tidak semua metode pembelajaran akan cocok dengan dunia mereka. Cara belajar bahasa inggris untuk anak akan berbeda dengan untuk dewasa.

Maka teknik belajar yang disesuaikan dengan kondisi psikologis adalah lebih cocok jika diterapkan. Selain akan lebih mudah untuk merangsang pertumbuhan sel-sel otak juga akan memberikan ruang untuk lebih optimalnya perkembangan otak kanan dan otak kiri. Inilah inti dari metode belajar bahasa Inggris untuk anak.
Belajar Bahasa Inggris Untuk Anak Dengan Gambar

Belajar sambil bermain adalah hal yang pastinya akan sangat digemari anak-anak. Ini adalah cara belajar bahasa Inggris untuk anak yang paling cocok. Carilah beberapa referensi gratis di internet tentang games yang menyenangkan. Bermain – main kata adalah salah satu game yang bisa digunakan.

Mudah saja, gunakanlah gambar yang mereka gemari misal binatang, buah-buahan atau makanan dan biarkan mereka menebak gambar setelah anda mengenalkan nama-nama gambar tersebut dalam bahasa Inggris. Dengan metode ini diharapkan anak anda akan mendapatkan manfaat untuk mengenal lingkungan mereka selain kosa kata dalam bahasa inggris. Lebih efektifnya, praktekkan game ini setiap hari dengan melakukan pendampingan.
Gunakan Juga Video

Video juga bisa dijadikan media belajar bahasa Inggris untuk anak. Melalui media visual yang menyenangkan dan penuh gambar berwarna akan menambah nilai lebih dalam pembelajaran anak anda. Perlihatkan beberapa video berbahasa inggris yang lucu yang akan membuat anak anda terlihat tertarik menontonnya. Video berbahas inggris bisa anda dapatkan dengan menyewa atau bisa didapatkan di toko kaset langganan anda.

Jika anda tak ada waktu untuk keluar, cukuplah dengan mendownloadnya di youtube atau media gratis lain. Memperlihatkan video tersebut setiap hari akan membiasakan anak anda untuk lebih berinteraksi dengan bahasa inggris. Karena anak-anak mudah bosan dengan yang mereka kerjakan, gantilah video itu jika diperlukan.
Teknik Flash Card

Untuk ukuran anak-anak pengucapan kosa kata berbahasa inggris dirasa cukup susah. Dengan pendampingan akan mempermudah anak anda memahami bahasa Inggris. Cara yang cukup baik untuk dipraktekkan yakni penggunaan flash card. Buatlah media flash card dengan kata-kata sederhana dalam bahasa Inggris. Teknik flash card cukup efektif sebagai alternatif belajar bahasa Inggris untuk anak.[4]
PENDEKATAN TEORI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK ANAK USIA DINI
Seorang pendidik anak usia dini sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran terlebih dahulu perlu memperhatikan karakteristik anak-anak yang dididik dan diajar agar program pembelajarannya sesuai dengan perkembangan dimensi anak-anak yang meliputi dimensi kognitif, bahasa, kreativitas, emosional dan sosial (Moeslichatoen, 1999).
Adapun secara umum karakteristik anak-anak usia dini yang dimaksud meliputi:
A.   Dari aspek kognitif:
1.    Mereka telah memiliki kemampuan untuk mengintepretasikan arti/makna.
2.    Mereka memiliki daya perhatian dan konsentrasi yang terbatas.
3.    Mereka telah memiliki daya imaginasi.
4.    Mereka memahami situasi
B.   Dari aspek afektif:
1.    Mereka senang menemukan dan menciptakan sesuatu
2.    Mereka senang berbicara
3.    Mereka senang bermain dan bekerja sendiri
4.    Mereka tertarik pada aktivitas yang relevan bagi mereka
C.   Dari aspek psiko-motor:
1.    Mereka memiliki ketrampilan dalam memakai bahasa secara terbatas namun kreatif.
2.    Mereka dapat belajar dengan melakukan sesuatu
3.    Mereka belajar bahasa Inggris dengan menggunakannya
4.    Mereka dapat bekerja sama dengan orang dewasa
5.    Mereka akan belajar dengan sangat baik apabila mereka terlibat dalam aktivitas yang relevan dengan diri mereka
(Haliwell, 1992).
Dengan memperhatikan karakteristik anak-anak tersebut, tujuan pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini secara umum dapat ditentukan sebagai berikut:
1.    membuat anak merasa berkompeten dan percaya diri dalam belajar bahasa Inggris
2.    menyediakan lingkungan pembelajaran yang aman, bersifat menghibur dan rekreatif serta mendidik
3.    menciptakan pembelajar bahasa Inggris untuk jangka panjang
(Schindler, 2006)
Sedangkan ruang lingkup pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini meliputi ketrampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis serta komponen kosa kata, pelafalan dan struktur bahasa. Semuanya ini harus disesuaikan dengan kemampuan anak yang diajar.
Adapun konsep-konsep yang perlu dikuasai anak-anak dalam berbahasa adalah:
1.    identifikasi (mengenal orang/benda yang ada di sekitar anak-anak)
2.    klasifikasi (pengelompokan, misalnya warna, bentuk, ukuran, jumlah, fungsi, jenis, dsb.)
3.    spasial (ruang atau posisi orang/benda)
4.    temporal (waktu)
5.    emosional (perasaan)
6.    familial (keluarga)
7.    ordering (menyusun)
8.    ekuivalensi (perbandingan)
(Ashworth dan Wakefield, 2005)
Dalam belajar bahasa asing, seperti bahasa Inggris, anak-anak:
1.    secara alami, sama dengan cara mereka belajar bahasa ibu
2.    dimotivasi
3.    dengan mendengar dan mengulang-ulang
4.    dengan menirukan guru
5.    dengan berinteraksi dengan orang lain
6.    dengan menerjemahkan
(Moon, 2000)
Metode-metode pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini yang bisa digunakan adalah:
1.    Bermain (dan bernyanyi)
2.    Bercakap-cakap
3.    Bercerita
4.    Demonstrasi
5.    Karya wisata
6.    Proyek
7.    Pemberian tugas
(Moeslichatoen, 1999)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan kegiatan pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini agar pembelajaran tersebut dapat mencapai tujuan seperti yang diharapkan:
1.    Melengkapi aktivitas pembelajaran dengan media visual, realia dan gerakan-gerakan serta kombinasi antara bahasa lisan dengan ‘bahasa tubuh’ atau ‘demonstrasi’.
2.    Melibatkan anak-anak di dalam pembuatan media visual atau realia.
3.    Berpindah dari aktivitas yang satu ke aktivitas lainnya dengan cepat
4.    Membangun rutinitas di dalam kelas dengan menggunakan bahasa Inggris
5.    Gunakan bahasa ibu apabila diperlukan
6.    Mengajar berdasarkan tema dan menstimulasi imajinasi dan kreativitas anak-anak.
7.    Menggunakan cerita dan konteks yang sudah dikenal oleh anak-anak
8.    Mengundang masyarakat sekitar (orang tua, mahasiswa, dsb.) yang bisa berbahasa Inggris untuk berceita di dalam kelas
9.    Berkolaborasi dengan guru lainnya di sekolah Anda
10. Berkomunikasi dengan guru atau pengajar untuk anak usia dini lainnya di luar sekolah Anda (Shin, 2006)[5]





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar