Selasa, 10 Mei 2011

Analisis Kesalahan Bahasa Dari Segi Fonologi

A. Deskripsi dan Identifikasi Kesalahan Bahasa dari Segi Fonologi
Kesalahan berbahasa merupakan proses peristiwa inheren dalam setiap pemakaian bahasa baik secara lisan maupun tulis. Perbedaan kesalahan bersumber dari 1) perbedaan kaidah-kaidah grametika yang pada gilirannya juga menimbulkan perbedaan realisasi pemakaian bahasa yang dilakukan. 2) perbedaan untuk penguasaan untuk menghasilkan atau menyusun tuturan yang sesuai dengan konteks komunikasi.
Kesalahan bahasa dari segi fonologi merupakan kesalahan dalam pengucapan tau penuturan. Dalam fonologi ada dua aspek yaitu dari segi fonetik dan fonemik.
Fonetik merupakan kajian bunyi yang tidak memperhatikan arti, sedangkan fonemik adalah kajian bunyi yang memperhatikan arti.

1. Fonetik
Kesalahan-kesalahan dari segi fonetik biasanya karena beberapa hal sebagai berikut :
Konsonan yang ada dalam bahasa Arab tidak ada dalam bahasa Indonesia
a. Tsa ( ث) yang diprediksikan =/Apikointerdental /geseran /td bersuara/
b. Dzal ( ذ) yang dideskripsikan =/Apikointerdental /geseran /bersuara
c. Dzo ( ظ) yang dideskripsikan =/Apikointerdental /geseran /bersuara /tebal
d. Shod ( ص) yang dideskripsikan =/Apikodental /geseran/ td bersuara /tebal
e. Tho ( ط) yang dideskripsikan =/Apikoalveolar /letupan /bersuara /tebal.
f. Ra ( ر) yang dideskripsikan =/Apikopalatal /geseran /sampingan/bersuara/tebal/
g. L ( ل) yang dideskripsikan =/Apikopalatal /geseran /sampingan /bersuara/tebal/
h. Dhot ( ض) dideskripsikan =/pikopalatal /geseran /bersuara /sampingan /tebal/
i. Ha ( ح) yang dideskripsikan =/Pharyngal /geseran /td bersuara/
j. Ain ( ع) yang dideskripsikan =/Pharyngal /geseran /td bersuara/
Diprediksikan siswa akan membuat kesalahan berat dalam menuturkan bunyi-bunyi diatas, karena mereka tidak terbiasa menuturkan bunyi bahasa Arab tersebut. Oleh sebab itu, seorang guru atau tutor tahsin qiraah dituntut untuk mengadakan latihan ektra guna meyakinkan bahwa siswa telah mampu menuturkan bunyi bahasa Arab tersebut dengan baik.
Konsonan yang ada dalam bahasa Indonesia, tidak ada dalam bahasa Arab
a. P Konsonan ini dideskripsikan =/bilabial /letuoan /td bersuara/
b. V Konsonan ini dideskripsikan =/labiodental /geseran /bersuara/
c. C Konsonan ini dideskripsikan =/mediopalatal /letupan /td bersuara/
d. Ny Konsonan ini dideskripsikan =/mediopalatal /geseran /bersuaa /Nasal
e. Ng Konsonan ini dideskripsikan =/Dorsovelar /geseran /bersuara /nasal
Diprediksikan dengan tidak sengaja, sewaktu-waktu siswa akan membuat kesalahan fatal dalam menuturkan bunyi-bunyi bahasa Arab yang mirip dengan bunyi-bunyi bahasa Indonesia di atas. Ketika seorang siswa bertemu dengan huruf (‘ain) dalam (____عالمين_) umpamanya, dengan tidak sengaja, dia akan terbawa untuk menuturkannya dengan (ng) menjadi (ngalamin) karena mereka telah terbiasa menuturkan bunyi-bunyi tandingan tersebut. oleh sebab itu, seorang guru atau tutor thsin qiraah dituntut untuk mengadakan latihan ektra guna meyakini bahwa siswa telah mampu dan biasa menuturkan bunyi bahasa Arab tersebut dengan baik dan sudah tidak terbawa untuk menuturkan bunyi tandingan tersebut.
2. Fonemik
Kesalahan-kesalahan yang terjadi sehingga bisa mempengaruhi arti dari bahasa tersebut.
Misalnya :
صا ر, سا ر
كلب, قلب
جوهرُ, جوهرْ
قا دم, قديم
Pada dua kata pertama sering terjadi kesalahan dalam pengucapan, kata صا ر jika terjadi kesalahan menjadi سا ر maka artinya menjadi begitu berbeda dari kata menjadi berubah arti menjadi kata berjalan.
Pada dua kalimat kedua jika terjadi kesalahan maka arti kata tersebut berubah jauh berbeda antara kata anjing dan hati.
Pada dua kata ketiga jika terjadi kesalahan dalam penggucapan sedikit saja maka artinya berbedah dari kata mutiara menjadi kata esensi.
Pada dua kata terakhir tersebut sering terjadi kesalahan dalam pengucapan, jika terjadi kesalahan maka artinya menjadi kebalikannya dari kata akan datang menjadi kata masa lampau.
B. Pengoreksian Kesalahan
Menurut Walz (1982) mengklasifikasikan prosedur koreksi dalam bahasa lisan menjadi tiga kategori, yaitu :
1) Koreksi Diri Sendiri dengan Guru
Ada berbagai bentuk pengoreksiannya. Misalnya guru dapat mengulangi responsasi sang pelajar sampai pada wadah kesalahan yang telah dibuat pelajar, meragu-ragukan dan melebih-lebihkan kata yang terakhir sedikit dengan intonasi menarik.
Guru dapat juga menjelaskan kata kunci dengan cara menulis kata sukar di papan tulis jika kata tersebut merupakan sumber keraguan dan kebinggungan serta kesalahan pelajar. Guru juga bisa melakukan koreksi dengan jelas dan halus dengan cara mengulangi ucapan pelajar dan melakukan perbaikan, tetapi cara ini kebanyakan hanya sebagian yang bisa menyadari kesalahannya tapi sebagian yang lain tidak memperhatikan. Ataupun guru bisa langsung melakukan koreksi secara formal.
2) Koreksi Sesama Teman
Guru dapat menyajikan pertanyaan-pertanyaan wawancara kepada para pelajar, bentuk pertanyaan harus sesuai dan tepat bagi para pelajar, kemudian wawancara tersebut di lakukan antar teman dan pelajar diharuskam melakukan pengoreksian sesama teman,tetapi sebelumnya guru memberikan kunci jawaban tersebut.
3) Koreksi Guru
Koreksi guru dapat dilakukan dua cara, yaitu :
Guru menyediakan jawaban yang benar, sebelum guru mengajukan pertanyaan kepada pelajar dan memprediksikan kira-kira kesalahan yang terjadi dalam pengucapan.
Guru juga dapat melakukan koreksi dengan cara langsung. Menunjukkan kapada pelajar kesalah-kesalahan yang dibuat.


Daftar Pustaka
Zaynuddin, mamat. Studi kontrastif dalam pengajaran bahasa arab, uin syarif hidayatullah, 2004
http://kiflipaputungan.wordpress.com/2010/06/07/fonologi-fonetik-dan-fonemik-dalam-bahasa-arab/
http://yazidkaka.blogspot.com/2011/01/teori-john-ruperth-firth.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar