Senin, 09 Mei 2011

Hubungan Linguistik Terapan dengan Pembelajaran Bahasa


  1. Pengertian Linguistik Terapan
                        Linguistik Terapan adalah terapan ilmu bahasa dalam bidang praktis. Ilmu ini dapat dipandang sebagai disiplin baru yang dapat berkembang dan diakui keberadaannya. Penulis menganggap bahwa Linguistik Terapan sudah merupakan suatu disiplin ilmu yang memenuhi berbagai fungsi bahasa dan memiliki dasar ilmu yang saling berkaitan, serta terbuka, sehingga dapat dikatakan bahwa leksikografi, penerjemahan, patologi, dan terapi wicara adalah bagian dari Linguistik Terapan. Khusus dalam bidangpengajaran bahasa penulis menyarankan bahwa seorang guru hendaknya dibekali dengan bekal ilmu yang cukup, mencakup ilmu bahasa itu sendiri dan kemampuannya mengajarkan bahasa. Linguistik Terapan menjebatani antara ahli bahasa, peneliti bahasa, dan pelaksana di lapangan, yaitu guru bahasa.[1]

            Linguistik terapan – kajian tentang bahasa secara lebih praktikal, berkaitan dengan masalah-masalah sebenarnya yang terjadi seperti:
§  pengajaran dan pembelajaran bahasa asing sebagai bahasa kedua,  
§  polisi dan perancangan bahasa,
§  penilaian program bahasa,
§  pengukuran & penilaian bahasa,
§  terapi pengucapan,
§  bahasa pengkhususan pekerjaan dan masalah-masalah komunikasi berkaitan (cth. Penggunaan terjemahan dalam mahkamah).[2]
  1. Hubungan Linguistik Terapan dengan Pembelajaran Bahasa
                        Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.

                        Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.
                        Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya, serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsip-prinsip belajar bahasa dapat disarikan sebagai berikut :
§ Pebelajar akan belajar bahasa dengan baik bila diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat,
§ Pembelajaran tersebut diberi kesempatan berapstisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas,
§ Pembelajaran tersebut bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa,
§ Pembelajaran tersebut disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya menjadi bagian dari bahasa sasaran,
§ Jika menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya,
§ Jika diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan
§ Jika diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri (Aminuddin, 1994).
                        Dalam pengajaran bahasa ada istilah yang perlu dipahami pengertian dan konsepnya secara tepat, yakni pendekatan, metode, dan teknik.
                        Pendekatan adalah seperangkat asumsi berkenaan dengan hakekat bahasa, dan belajar mengajar bahasa. Metode adalah rencana menyeluruh penyajian bahasa secara sistematis berdasarkan pendekatan yang ditentukan . Sedangkan teknik adalah kegiatan spesifik yang di implementasikan dalam kelas, selaras dengan metode dan pendekatan yang telah dipilih. Dengan demikian pendekatan bersifat aksiomatis, metode bersifat procedural, dan teknik bersifat operasional.
                        Pada tahun delapan puluhan, Jack Richard dan Theoder Rodges (dalam Brown, 2001) mempormulasikan konsep “metode” dan memberikan penamaan baru untuk “pendekatan, metode, dan teknik” menjad “ pendekatan, rancangan, prosedur”, dalam konsep kata ini, metode menjadi istilah kunci untuk menggambarkan ketiga tahapan proses (pendekatan, rancangan, dan prosedur) atau menjadi paying utama spesifikasi dan interelasi antara teori dan prakti. Pendekatan itu berupa asums, kepercayaan dan teori tentang hakekat bahasa dan belajar bagasa. Rancangan merupakan pengaitan teori-teori yang diyakini (dalam pendekatan) dengan materi dan aktivitas belajar-mengajar. Prosedur adalah teknik dan praktek yang diambil dari pendekatan dan rancangan tertentu.
                        Metode juga diartikan “cara “. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesi, kata metode diartikan “ cara “yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan ), cara kerja yang bersystem untuk mempermudah pelaksanaan sesuatu kegiatan guna mencapai tuan yang tentukan”(lihat Dedikbut,1988:792).
                        Menurut Anthony yang dikutip oleh Huda (dalam Dardjowidjojo, 1988 :296) unsure metode terdiri dari pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique). Pendekatan berisikan seperangkat asumsi yang mendasari netode, sedang metode menerjemahkan asumsi-asumsi itu kedalam kegiatan pengajaran meliputi antara lain penentuan tujuan, bahan, teknik, dan prosedur mengajar dikelas.
                        Menurut Mackey (1965 :138) metode akan menentukan keberhasilan dan kegagalan pengajaran bahasa. dalam buku Language Teaching Analysis.[3]
                        Di antara semua bidang linguistik terapan, bidang pembelajaran bahasa ibu dan bahasa asing merupakan bidang yang sudah mantap perkembangannya karena pembelajaran bahasa mempunyai daya jual yang tinggi dan diperlukan masyarakat. Pengetahuan linguistik mengenai bentuk, makna, struktur, fungsi, dan variasi bahasa sangat diperlukan sebagai modal dasar pembelajaran bahasa.
                        Kegiatan pembelajaran bahasa merupakan upaya yang mengakibatkan siswa dapat mempelajari bahasa dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran.
                        Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi.
                        Suatu program pembelajaran bahasa yang menyeluruh dan terpadu tidak dapat melepaskan diri dari pemberian input kebahasaan dan aspek-aspek kebudayaan pada waktu yang bersamaan. Hal ini perlu dilakukan agar pelajar dapat mengaplikasikan kecakapan linguistik dan  keterampilan  berbahasa dalam suatu konteks budaya sebagaimana dianut oleh suatu masyarakat.
                        Dalam proses belajar-mengajar bahasa ada sejumlah variabel, baik bersifat linguistik maupun yang bersifat nonlinguistik, yang dapat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar itu. Variabel-variabel itu bukan merupakan hal yang terlepas dan berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan hal yang saling berhubungan, berkaitan, sehingga merupakan satu jaringan sistem.
Keberhasilan belajar bahasa, yaitu yang disebut asas-asas belajar, yang dapat dikelompokkan menjadi asas-asas yang bersifat psikologis anak didik, dan yang bersifat materi linguistik. Asas-asas yang yang bersifat psikologis itu, antara lain adalah motivasi, pengalaman sendiri, keingintahuan, analisis sintesis dan pembedaan individual.
                        Jadi, dapat disimpimpulkan bahwa linguistik terapan sangan berkaitan dengan pembelajaran bahasa baik bahasa indonesia ataupun bahasa kedua yang di ajarkan kepada peserta didik. Salah satu kajian linguistik terapan adalah analisis kontrastif yang sangat berguna bagi para pendidik dalam menentukan materi apa yang akan disampaikan dalam pembelajaran bahasa tersebut, yang disesuaikan dengan adanya persamaan dan perbedaan antara bahasa ibu siswa dengan bahasa kedua yang akan di pelajari siswa. Dalam analisis kesalahan memudahkan siswa dalam menggunakan bahasa kedua dan mengoreksi setiap kesalahan- kesalahan yang mungkin terjadi dalam penggunaan bahasa kedua tersebut, sehingga meminimalisir terjaadinya kesalahan dalam berbahasa. Penganalisisan bahasa juga membantu dalam menentukan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran bahasa.
                       


[1] id.wikipedia.org/wiki/Linguistik_terapan

[3] http://www.blogger.com/rearrange?blogID=2965109313649759896&widgetType

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar